Optimalkan Sistem Otomasi Perpustakaan

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi semakin memudahkan manusia dalam kesehariannya. Hal ini juga berdampak kepada pekerjaan pustakawan di perpustakaan. Dengan penggunaan teknologi atau sistem otomasi di perpustakaan, pustakawan semakin mudah melakukan pengolahan dan layanan informasi. Namun, bagaimanakah sebenarnya pemanfaatan sistem otomasi perpustakaan di perpustakaan selama ini khususnya di Sulawesi Selatan ? berikut wawancara kami bersama pemerhati dan konsultan TI/Sistem otomasi perpustakaan, Muhammad Azwar Muin, S.Pd.I, M.Hum yang juga merupakan dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar.

Sebagai seorang konsultan di bidang Otomasi Perpustakaan, Bagaimana Bapak melihat perkembangan penerapan sistem otomasi di Sulawesi Selatan khususnya Makassar ?

Penerapan sistem otomasi dengan betul-betul optimal, masih kecil persentasenya. Kalau mengenal sistem otomasi mungkin sudah banyak yang tahu, namun yang menerapkan sistem otomasi masih taraf bisa input data, bisa install, semacam SLiMS. Sepertinya sudah banyak yang menerapkan. Ini bukan penelitian, tapi berdasarkan pengamatan saya saja, perpustakaan daerah saja masih banyak yang belum otomasi, padahal seharusnya menjadi contoh bagi perpustakaan yang ada di kotanya. Namun banyak juga yang sudah otomasi, tetapi cara menggunakan sistem tersebut belum menguasai secara keseluruhan atau mungkin sudah bisa input data, tetapi cara inputnya belum sesuai dengan standar perpustakaan, misalnya sesuai dengan aturan ISBD atau RDA, dan AACR 2.

Menurut saya, seharusnya yang input data bibliografi di sistem otomasi itu harus yang benar-benar profesional yang menguasai ISBD, AACR2, Klasifikasi dan Tajuk Subjek sehingga penulisannya betul-betul standar, dan disinilah dibutuhkan betul-betul ilmu (perpustakaan) pustakawan. Kebanyakan yang saya amati, mereka merasa mudah-mudah saja menginput data di sistem otomasi, yang penting input meskipun tidak sesuai dengan standar. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara pustakawan (dari latar belakang Ilmu Perpustakaan) dengan yang non ilmu perpustakaan, padahal harusnya ada bedanya.

Apa yang selama ini menjadi kendala dalam pemanfaatan TIK pada perpustakaan di Sulsel khususunya Makassar ? Bagaimana Bapak melihat efektifitas pemanfaatan sistem temu balik informasi oleh para pemustaka/pengunjung di beberapa perpustakaan di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar ?

Keterampilan atau kemampuan SDM yang belum memahami, apalagi bisa menerapkan sistem otomasi dengan baik sehingga di perpustakaan biasanya mengandalkan orang IT atau orang lain dalam permasalahan sistem otomasi. Seharusnya ada orang IT perpustakaan yang khusus ditempatkan di perpustakaan sehingga secara langsung dan stand by menangani hal-hal teknis IT dan sekaligus ikut mengembangakn IT perpustakaan.

Efektifitas pemanfaatan sistem temu balik informasi oleh para pemustaka/pengunjung di beberapa perpustakaan di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar masih kurang optimal. Mungkin karena pemahaman tentang sistem temu balik yang masih rendah. Kemudian di perpustakaan belum banyak yang menerapkan pendidikan pemustaka (Literasi Informasi) dengan baik, sehingga pemanfaatan sistem temu balik juga kurang dipahami oleh pemustaka. Jangankan ingin menerapkan pendidikan pemustaka, layanan perpustakaan saja belum optimal dan belum terorganisir sesuai dengan standar perpustakaan. Jadi bingung juga apa yang mau di perkenalkan melalui pendidikan pemustaka. Kendala SDM juga disebabkan karena mahasiswa JIP sewaktu kuliah kurang dibekali dengan optimal tentang pemanfaatan TI dengan teori dan praktik, sehingga ketika bekerja sangat kewalahan menangani hal-hal teknis IT di perpustakaan. Di samping itu, yah mungkin karena malas belajar karena merasa salah pilih jurusan, dsb.

Link : https://www.facebook.com/groups/570699106299681/823511617685094/

Leave a reply

Sekretariat:

Kampus 2 UIN Alauddin

Perpustakaan Fak. Adab & Humaniora

Jl. Sultan Alauddin No. 36 Samata, Gowa

Sulawesi Selatan - Indonesia